PENERAPAN KONSEP ABACUS PADA ALAT HITUNG KECEKAN


BAB I
PENDAHULUAN


Latar belakang masalah


Paradigma pendidikan luar biasa di Indonesia telah mengalami perkembangan dengan terjadinya perubahan pendidikan dari segregasif ke arah yang lebih inklusif. Hal ini telah ditegaskan dalam Deklarasi Salamanca yang menyatakan bahwa selama memungkinkan semua anak seharusnya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan atau perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Selain itu juga didukung oleh The World Conference on Special Needs Education: Access and Equality, Juni 1994 di Salamanca, Spanyol yang menyatakan bahwa semua bangsa harus memasukkan pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus ke dalam kebijakan pendidikannya, menjadi dasar pelaksanaan pendidikan inklusif bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang diselenggarakan pada sekolah reguler dan terbuka bagi semua calon peserta didik tanpa kecuali tidak membeda-bedakan kemampuan intelektual, emosional, fisik dan faktor lainnya. Pendekatan, strategi, media dan program pendidikan dirancang dan dipersiapkan agar dapat mengakomodasi kebutuhan individual setiap peserta didik terutama mereka yang menyandang cacat atau berkebutuhan khusus yang temporer maupun permanen. Dengan demikian pendidikan inklusif menerapkan prinsip paedagogi berpusat pada murid.

Berdasarkan pengalaman penulis sebagai guru pembimbing khusus bagi siswa tunanetra di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif, banyak keluhan dari guru kelas dan orang tua mengenai sulitnya belajar matematika. Padahal seperti kita ketahui, matematika adalah salah satu ilmu yang mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan untuk membantu manusia memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. Matematika juga menunjang pelajaran lain seperti fisika dan kimia. Secara tidak langsung, belajar matematika akan membentuk sikap yang diperlukan dalam kehidupan manusia seperti teliti, teratur dan rapi.

Karena peranannya yang sangat penting, maka konsep dasar matematika yang dimiliki anak harus kokoh dan kuat serta diajarkan dengan benar. Paling tidak, aritmetika dasar yang melibatkan kalkulasi sederhana seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian harus dikuasai dengan sempurna.

Pernyataan yang mengatakan bahwa matematika sangat sulit diajarkan untuk anak tunanetra sebenarnya hanyalah pandangan mereka yang melihat tunanetra dari segi hambatan. Karena telah banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa anak tunanetra dapat belajar matematika jika mereka diajarkan dengan cara yang tepat.

Saat ini belajar matematika menjadi sesuatu yang sangat mungkin bagi anak tunanetra dengan adanya perkembangan berbagai alat bantu hitung seperti; taylor frame dan abacus serta metode pengajaran yang lebih efektif.

Darling (1985) menyatakan bahwa aktivitas belajar bagi anak tunanetra dapat diciptakan sama dengan anak yang tidak mengalami hambatan penglihatan. Ia mengatakan bahwa alat bantu matematika sangat penting digunakan dalam mengembangkan konsep-konsep yang benar bagi anak tunanetra. Selain itu penggunaan alat bantu seperti abacus bagi anak tunanetra diperlukan untuk efektivitas melakukan perhitungan dan pada akhirnya akan membentuk mental aritmetika anak tunanetra. Dengan kemampuan mental aritmetika yang baik akan mempermudah anak tunanetra menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan kalkulasi.


Dari fakta di lapangan sebagian siswa tunanetra di kelas awal ( 1 – 3 ) yang mengalami kesulitan dalam belajar matematika banyak disebabkan karena guru di kelas awal (terutama di jenjang TKLB) menggunakan alat bantu hitung seperti kecekan. Ternyata penggunaan kecekan tidak efektif sebab menyebabkan pemborosan waktu dan tenaga karena anak harus membilang satu persatu. Selain itu siswa sering kehilangan jumlah hitungan terutama jika perhitungan sudah mencapai bilangan dengan dua digit (puluhan dan ratusan). Kesalahan konsep juga dijumpai ketika kemudian siswa diajarkan dengan alat hitung abacus.

Ketika guru menggunakan abacus, banyak siswa tunanetra yang salah persepsi dengan membilang dan menghitung manik-manik bagian atas abacus yang bernilai 5 dengan 1. Fakta lain yang menimbulkan kesulitan dengan penggunaan abacus adalah banyaknya guru yang kurang memiliki pengetahuan dan ketrampilan menggunakan abacus.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, penulis kemudian mengembangkan sebuah metode dalam pembelajaran matematika bagi siswa tunanetra pada jenjang sekolah dasar kelas 1. Pengembangan metode tersebut dengan menerapkan konsep abacus pada alat hitung kecekan.

Alasan penggunaan kecekan karena harga kecekan relatif lebih murah dan mudah diperoleh. Guru dan orang tua juga lebih familiar dan tidak merasa asing dengan kecekan dibandingkan abacus.

Untuk daerah-daerah tertentu yang tidak ditemukan alat kecekan ini, guru dan siswa dapat membuatnya dari bahan yang terdapat di lingkungan mereka, misalnya ; biji buah saga, biji salak dll.

Dengan penggabungan konsep abacus ke dalam sistem nilai tempat dengan alat hitung kecekan tersebut diharapkan banyak anak di kelas-kelas awal yang terbantu dalam mempelajari konsep-konsep yang berkaitan dengan aritmetika.

B. Ruang lingkup atau pembatasan

Masalah yang penulis angkat adalah bagaimana meningkatkan kemampuan belajar aritmetika (penjumlahan dan pengurangan) untuk siswa tunanetra dengan menerapkan konsep abacus pada alat bantu yang lebih familiar di lingkungan orang tua siswa (kecekan) dalam pembelajaran matematika.

Dalam hal ini ruang lingkup permasalahan dibatasi pada :
- Penerapan konsep abacus
- Alat bantu yang digunakan kecekan
- Disampaikan pada mata pelajaran matematika (aritmetika)
- Diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar yang mengalami tunanetra di kelas satu ( 1 )




C. Tujuan dan manfaat

Tujuan praktis dari kegiatan yang penulis lakukan adalah mengembangkan satu alternatif metode dan alat bantu bagi tunanetra yang dapat mempermudah anak serta keluarganya dalam mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak untuk mengerjakan kalkulasi sederhana dalam aritmetika dasar sehingga akan terbentuk mental aritmetika anak tunanetra yang lebih baik. Sedangkan secara akademis kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah metode dan alat bantu pendidikan yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran matematika yang sesuai dengan tingkat berpikir anak tunanetra usia sekolah dasar kelas satu ( 1 ) sehingga tidak akan dijumpai kesulitan belajar matematika pada kelas-kelas awal.

Manfaatnya dapat digunakan sebagai bahan pengembangan pembelajaran matematika pada anak sekolah dasar kelas 1 - 3 terutama bagi anak yang mengalami hambatan penglihatan. Keberhasilan metode ini dapat digunakan untuk memberikan rangsangan dalam mengembangkan mental aritmetika anak tunanetra. Semakin cepat mental aritmetika mereka terbentuk, semakin cepat dan mempermudah siswa tunanetra untuk dapat mengikuti pendidikan inklusif di sekolah reguler.



D. Sajian definisi

a. Pendidikan Inklusif
Inklusi didefinisikan sebagai sistem layanan pendidikan luar biasa (untuk anak berkebutuhan khusus) yang mensyaratkan agar semua anak yang memiliki kebutuhan khusus belajar bersama teman-teman sebayanya di kelas yang sama di sekolah-sekolah terdekat (Sapon-Shevin dalam O Neil, 1995). Inklusi juga didefinisikan sebagai bentuk layanan dan bantuan yang diberikan pada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus di sekolah umum. Ini berarti bahwa semua anak yang berada di sekolah itu menjadi bagian dari sekolah itu dan mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah (Rogers, 1993 dalam Moore, 1998:2).

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang diselenggarakan pada sekolah reguler dan terbuka bagi semua calon peserta didik tanpa kecuali tidak membeda-bedakan kemampuan intelektual, emosional, fisik dan faktor lainnya. Pendekatan, strategi, media dan program pendidikan dirancang dan dipersiapkan agar dapat mengakomodasi kebutuhan individual setiap peserta didik terutama mereka yang menyandang cacat atau berkebutuhan khusus yang temporer atau permanen. Dengan demikian pendidikan inklusif menerapkan prinsip paedagogi berpusat pada murid.


b. Tunanetra
Tunanetra adalah salah satu jenis hambatan fisik yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang menggunakan penglihatannya untuk tujuan belajar dengan huruf awas dan harus menggunakan Braille sebagai media belajarnya.

Pembelajaran matematika

Matematika terdiri dari 3 bidang pembelajaran utama yaitu ; aljabar, geometri, dan aritmetika yang akan menjadi pembahasan dalam penulisan ini. Aritmetika merupakan pemecahan soal-soal yang bentuknya komputasi sederhana. Untuk belajar aritmetika dibutuhkan penguasaan komputasi dasar terlebih dahulu yang terdiri dari ; penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Oleh sebab itu untuk belajar aritmetika secara efisien, kemampuan tersebut di atas harus dapat dilaksanakan secara otomatis.

Alat hitung dalam pembelajaran matematika

Abacus
Abacus adalah alat hitung ukuran kantung yang menggunakan pergerakan manik-manik untuk melakukan perhitungan dasar ditambah proses-proses perhitungan aritmetika yang lebih maju.
Konsep penggunaan abacus didasarkan pada sistem nilai tempat, dimana abacus terbagi menjadi 2 posisi; bagian atas terdiri dari 1 manik-manik yang mempunyai nilai 5 dan bagian bawah terdiri dari 4 manik-manik yang masing-masing mempunyai nilai 1.

Meskipun abacus memfasilitasi perhitungan yang cepat, sayangnya alat ini belum banyak digunakan dalam dunia pendidikan luar biasa di Indonesia karena sebagian besar guru tidak mengetahui cara bekerja abacus untuk perhitungan matematika.

Kecekan
Kecekan merupakan alat bantu hitung yang banyak dijumpai di Indonesia yang menggunakan sistem nilai tempat dengan basis 10. Alat ini banyak digunakan pada siswa-siswa SD di kelas-kelas awal
( 1 – 3 ) untuk melakukan operasi hitung sederhana dalam aritmetika ( penjumlahan dan pengurangan ).



BAB II
LAPORAN KEGIATAN YANG DILAKUKAN



A. Penyusunan program

Program disusun berdasarkan acuan menu pembelajaran matematika dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan di SDN Percontohan Kebayoran Lama Selatan 11 Pagi Jakarta, yang kemudian dijabarkan lebih rinci ke dalam kegiatan harian dalam bentuk rencana pembelajaran. Meskipun Program yang disusun berpatokan pada acuan menu pembelajaran matematika dengan pendekatan tematik, tetapi program pembelajarannya dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa.

Dalam pengajaran matematika, urutan dilakukan mulai dengan :
Belajar menggunakan benda konkret atau nyata
Dalam hal ini benda konkret yang digunakan adalah kecekan dengan menerapkan konsep abacus. Proses ini dilakukan untuk membantu anak membentuk jalur informasi berupa konsep-konsep dasar penguasaan matematika. Untuk memperkuat jalur informasi yang baru terbentuk di otak diperlukan pengulangan dengan teknik yang berbeda mulai dari yang mudah menuju ke sulit, dari yang sederhana ke materi yang lebih kompleks.

Belajar membuat bayangan di pikiran
Pada bagian ini anak dilatih untuk membentuk mental aritmetika yang baik. Selain itu logika matematika mulai terbentuk pada bagian ini.

Dari urutan pembelajaran matematika tersebut, disusunlah rencana pembelajaran sebagai berikut :


SIKLUS 1 SIKLUS 2
Penggunaan alat hitung kecekan dengan Mengembangkan mental aritmetika
menggunakan konsep abacus


Materi pembelajaran sebagai berikut :
(Prinsip kerja dan materi pembelajaran aritmetika dengan alat hitung kecekan yang menggunakan konsep abacus tersaji secara lengkap dalam lampiran)

Belajar menggunakan benda konkret atau nyata
· Penerapan konsep abacus dengan alat hitung kecekan
Penjumlahan sederhana
Buatlah satu contoh soal, misalnya ;
23 + 35 = ….
Mintalah anak untuk meletakkan bilangan 23 menggunakan beberapa manik-manik dengan posisi ;
Letakkan 2 manik-manik di posisi puluhan
Letakkan 3 manik-manik di posisi satuan

Tambahkan dengan bilangan 35 dengan ketentuan :
Menambahkan 3 manik-manik di posisi puluhan sehingga menjadi 5 manik-manik
Menambahkan 5 manik-manik di posisi satuan sehingga menjadi 8 manik-manik

Hasil akhirnya menjadi :
5 manik-manik di posisi puluhan
8 manik-manik di posisi satuan

Hasilnya : 58

Penjumlahan dengan menyimpan
Buatlah satu contoh soal, misalnya ;
28 + 9 = ….
Buat bilangan 28 dengan meletakkan beberapa manik-manik dengan posisi ;
Letakkan 2 manik-manik di posisi puluhan
Letakkan 8 manik-manik di posisi satuan

Tambahkan dengan bilangan 9 di posisi satuan. Karena di posisi satuan hanya memiliki 2 manik-manik maka perhitungan dilakukan dengan ketentuan
Menambahkan 1 manik-manik di posisi puluhan sehingga menjadi 3 manik-manik
Mengurangkan/menggeser ke kanan 1 manik-manik di posisi satuan sehingga menjadi 7 manik-manik

Hasil akhirnya menjadi :
3 manik-manik di posisi puluhan
7 manik-manik di posisi satuan

Hasilnya : 37

Pengurangan sederhana
Buatlah satu contoh soal, misalnya ;
68 - 24 = ….
Mintalah anak untuk meletakkan bilangan 68 dengan posisi ;
Letakkan 6 manik-manik di posisi puluhan
Letakkan 8 manik-manik di posisi satuan

Kurangi dengan bilangan 24 dengan ketentuan :
Mengurangkan/menggeser ke kanan 2 manik-manik di posisi puluhan sehingga menjadi 4 manik-manik
Mengurangkan/menggeser ke kanan 4 manik-manik di posisi satuan sehingga menjadi 4 manik-manik

Hasil akhirnya menjadi :
4 manik-manik di posisi puluhan
4 manik-manik di posisi satuan

Hasilnya : 44

Pengurangan dengan meminjam
Buatlah satu contoh soal, misalnya ;
64 – 8 = ….
Mintalah anak untuk meletakkan beberapa manik-manik dengan posisi ;
Letakkan 6 manik-manik di posisi puluhan
Letakkan 4 manik-manik di posisi satuan

Kurangi dengan bilangan 8 pada posisi satuan. Karena pada posisi satuan hanya terdapat 4 manik-manik, maka pengerjaan hitungan dilakukan dengan ketentuan :
Mengurangkan/menggeser ke kanan 1 manik-manik di posisi puluhan sehingga menjadi 5 manik-manik
Mengurangkan/menggeser ke kiri 2 manik-manik di posisi satuan sehingga menjadi 6 manik-manik

Hasil akhirnya menjadi :
5 manik-manik di posisi puluhan
6 manik-manik di posisi satuan

Hasilnya : 56

Belajar membuat bayangan di pikiran
Mengembangkan mental aritmetika
Catatan :
lakukan kegiatan perhitungan di luar kepala (dalam alam pikiran anak)
Penjumlahan dengan menyimpan
Buatlah sebuah contoh soal, misalnya ;
19 + 8 = ....
Mintalah anak untuk melakukan perhitungan sebagai berikut :
19 + 8 = 19 + ( 10 – 2 )
= ( 19 + 10 ) – 2
= 29 – 2
= 27


Pengurangan dengan meminjam
Buatlah sebuah contoh soal, misalnya ;
64 – 8 = ....
Mintalah anak untuk melakukan perhitungan sebagai berikut :
64 – 8 = 64 – ( 10 + 2 )
= ( 64 – 10 ) + 2
= 54 + 2
= 56

B. Penyajian

Penyajian proses pembelajaran dilakukan sama dengan mata pelajaran lainnya, dengan urutan :
- Kegiatan awal
- Kegiatan inti
- Kegiatan penutup

Dalam penyajian pembelajaran, kecekan digunakan sebagai alat hitung bagi siswa tunanetra pada setiap proses pembelajaran matematika terutama ketika mengerjakan operasi hitung aritmetika. Tetapi ketika menggunakan kecekan, maka penerapan konsep abacus harus digunakan. Jadi siswa tidak membilang menggunakan kecekan tetapi mengerjakan kalkulasi sederhana tersebut dengan menerapkan konsep abacus pada kecekan.

Prasyarat penggunaan alat tersebut, siswa harus telah memahami nilai tempat dalam sistem desimal, misalnya angka 888 mempunyai nilai berbeda antara yang di depan (ratusan), tengah (ribuan) dan belakang (satuan).
Ketentuan lain yang berlaku dalam menyajikan penerapan konsep abacus pada alat hitung kecekan adalah :
Ketika melakukan operasi hitung penjumlahan, maka baris pertama pada kecekan harus dikosongkan dan tidak digunakan. Sebab baris pertama akan digunakan ketika perhitungan harus menyimpan pada nilai tempat berikutnya ( ratusan atau ribuan ).
Tetapi ketika melakukan operasi hitung pengurangan, maka baris pertama tetap digunakan


Ketika penyajian proses pembelajaran ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan guru antara lain :
Anak harus gembira dan rileks sewaktu belajar. Kondisi ini sangat diperlukan agar anak mampu memahami materi yang dipelajari dengan baik. Gunakan musik yang dapat membuat anak rileks
Bangun komunikasi yang baik antara guru dan siswa. Gunakan pilihan kata, intonasi suara yang positif serta sentuhan yang bermakna. Hal ini akan membantu membangun harapan yang tinggi dan positif.
Jaga pikiran kita agar selalu positif. Jangan membuat label yang negatif bagi anak.




C. Penilaian proses hasil pembelajaran

Matematika menuntut banyak sekali perhatian, kemampuan memberi alasan, ketrampilan memecahkan persoalan dan kemampuan menggambarkan kesimpulan.

Ketika seorang anak belajar matematika, ada tiga ( 3 ) hasil belajar dalam mata pelajaran matematika yang harus dapat dicapai oleh setiap anak. Ketiga hasil belajar tersebut adalah ; pemahaman konsep, ketrampilan dan pemecahan masalah. Tiap anak yang belajar matematika perlu mencapai ketiga jenis hasil belajar tersebut karena diperlukan dalam pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu penilaian hasil proses pembelajaran harus mencakup ketiga hal tersebut di atas dengan menggunakan tes tertulis dan tes performance seperti; bagaimana siswa melakukan proses penghitungan dengan menerapkan konsep abacus pada kecekan, bagaimana siswa menyelesaikan soal-soal yang diberikan.

Penilaian hasil proses pembelajaran dilakukan dengan format sebagai berikut :


KEGIATAN
JENIS PENILAIAN

Pemahaman
Konsep
Ketrampilan melakukan perhitungan
Ketrampilan memecahkan masalah
Ketrampilan membuat kesimpulan
Kecepatan dan ketepatan


Penggunaan alat hitung kecekan dengan konsep abacus
Penjumlahan sederhana

Penjumlahan dengan menyimpan

Pengurangan sederhana

Pengurangan dengan meminjam

II
Mengembang
kan mental aritmetika
Penjumlahan dengan menyimpan

Pengurangan dengan meminjam



REFLEKSI HASIL PENILAIAN

a. TINDAKAN AWAL


Jenis Kegiatan


Hasil Observasi
PENGGUNAAN KECEKAN
Pemahaman konsep
Untuk mengerjakan soal kalkulasi sederhana, siswa mengingat bilangan pertama lalu menambahkan bilangan berikutnya dengan menempatkan bilangan kedua pada kecekan lalu melanjutkan membilangnya

Gerakan tangan
Untuk penjumlahan, jari tangan kanan bergerak maju disusul dengan jari tangan kiri di belakangnya. Tangan kiri selalu digunakan siswa untuk menetapkan tangan kanan maju ke manik berikutnya

Kecepatan menyelesaikan soal
Untuk menyelesaikan satu soal kalkulasi sederhana dibutuhkan waktu 3 menit


Ketepatan
Dari 5 soal operasi hitung sederhana yang diberikan guru, siswa mampu menjawab benar dan tepat 5 soal

PENGGUNAAN ABACUS
Pemahaman konsep
Siswa hanya dapat menyelesaikan kalkulasi dengan bilangan yang menggunakan 4 buah manik-manik bawah.
Siswa membilang manik-manik atas dengan nilai 1 bukan 5, sehingga konsep bahwa 1 buah manik-manik atas bernilai 5 belum dipahami siswa

Gerakan tangan
Siswa sudah memahami gerakan jari tangan dalam penggunaan abacus. Tetapi ketika sampai posisi 5, siswa tidak pernah menurunkan ke empat ( 4 ) manik-manik yang di bawah

Kecepatan menyelesaikan soal
Siswa membutuhkan waktu 5 menit untuk menyelesaikan 1 soal

Ketepatan
Soal yang menggunakan nlai lebih dari 5, hanya dapat diselesaikan 1 soal



b. SIKLUS I - PENGGUNAAN ALAT HITUNG KECEKAN DENGAN KONSEP
ABACUS

Jenis Penilaian
Kegiatan
Penjumlahan sedehana
Penjumlahan dengan menyimpan
Pengurangan sederhana
Pengurangan dengan meminjam
Pemahaman konsep
Tidak ada kesulitan yang berarti dalam pemahaman konsep penjumlahan sederhana menggunakan konsep abacus pada alat hitung kecekan
Siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep abacus yang diterapkan dalam alat hitung kecekan dalam mengerjakan soal-soal penjumlahan dengan menyimpan
Dalam memahami konsep pengurangan sederhana pada alat hitung kecekan yang menerapkan konsep abacus, siswa tidak mengalami hambatan
Pada awalnya siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep pengurangan dengan meminjam yang menerapkan konsep abacus pada kecekan. Tetapi ketika siswa sudah memahami konsep tersebut, maka siswa mampu menyelesaikan semua soal yang diberikan




Ketrampilan melakukan perhitungan
Tidak ada kesulitan yang menjadi hambatan ketika melakukan operasi penjumlahan karena posisi nilai tempat dikuasai anak dengan baik. Penggunaan jari tangan untuk mengerjakan operasi hitung dengan menerapkan konsep abacus pada kecekan dilakukan dengan baik.

Siswa dapat melakukan ketrampilan memindahkan manik-manik pada kecekan dengan menerapkan konsep abacus seperti; jika menyimpan, maka harus menggeser ke kanan
Ketrampilan melakukan perhitungan menggunakan kecekan dengan menerapkan konsep abacus dapat dilakukan dengan baik. Posisi jari tangan dan nilai tempat dikuasai dengan sempurna.

Penguasaan jari tangan untuk memindahkan atau menggeser manik-manik ke kanan sebagai konsep meminjam dan menggeser kanan sebagai hasil pinjaman dapat dilakukan oleh siswa.
Ketrampilan memecahkan masalah
Pada instrumen tes yang berkaitan dengan soal cerita, siswa mampu melakukan dengan baik. Kemampuan siswa memecahkan masalah dilakukan dengan bantuan alat hitung kecekan yang menerapkan konsep abacus

Pada soal-soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dengan menyimpan, siswa mampu melakukannya tanpa kesulitan. Alat yang digunakan kecekan dengan konsep abacus
Tidak ada kesulitan ketika siswa harus mengerjakan tes yang berkaitan dengan pengurangan sederhana dalam bentuk soal cerita dengan menggunakan alat kecekan dan menerapkan konsep abacus
Siswa tidak mengalami hambatan dalam mengerjakan tes yang berkaitan dengan materi pengurangan dengan meminjam dalam bentuk soal cerita. Dalam mengerjakan soal siswa menggunakan kecekan dengan konsep abacus

Ketrampilan membuat kesimpulan
Siswa dapat memberikan kesimpulan ketika guru bertanya, kenapa menambah beberapa manik-manik sesuai dengan soal yang diberikan di masing-masing nilai tempat yang berbeda

Siswa mampu membuat kesimpulan bahwa jika kita menyimpan maka harus menambahkan 1 manik-manik di posisi nilai tempat yang lebih tinggi dan menggeser beberapa manik-manik di posisi sejajarnya yang merupakan kelebihan angka

Siswa dapat membuat kesimpulan bahwa mengurangi berarti harus menggeser manik-manik ke arah kanan dan merupakan kebalikan dari menjumlahkan yang harus menggeser ke kiri
Siswa memberikan kesimpulan yang sangat baik untuk mengerjakan operasi hitung matematika dan memahami pengerjaan operasi hitung dengan bayang-bayang (mental aritmetika)
Kecepatan dan ketepatan
Dalam satu soal operasi perhitungan yang berkaitan dengan penjumlahan sederhana, siswa mampu mengerjakan dalam waktu kurang dari 1 menit.

Sedangkan ketepatan menjawab 100% benar artinya dari 10 soal yang diberikan mampu dikerjakan semua dengan baik
Untuk soal-soal yang berkaitan dengan penjumlahan menggunakan teknik menyimpan, siswa mampu mengerjakannya dalam waktu 1 menit bahkan kadang-kadang dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 1 menit

Ketepatan mengerjakan soal berbentuk penjumlahan menyimpan 95 – 100%

Semua soal dapat dikerjakan dengan baik dan teliti oleh siswa. Rata-rata siswa mampu mengerjakan satu soal pengurangan sederhana dalam waktu kurang dari 1 menit.

Akurasi ketepatan menjawab soal yang berbentuk pengurangan sederhana 100%. Hampir rata-rata nilai siswa mencapai 100 artinya siswa mampu mengerjakan semua soal dengan tepat dan cepat

Sedangkan soal dengan pengurangan menggunakan teknik meminjam dapat dilakukan dalam waktu 1 menit bahkan kadang-kadang kurang dari 1 menit. Siswa mampu menyelesaikan soal dengan 2 kali meminjam dalam waktu 1 menit tetapi tidak pernah lebih dari satu menit

Ketepatan mengerjakan soal pengurangan meminjam berkisar 90 – 100%


c. SIKLUS II - MENGEMBANGKAN MENTAL ARITMETIKA

Jenis Penilaian
Kegiatan
Penjumlahan sedehana
Penjumlahan dengan menyimpan
Pengurangan sederhana
Pengurangan dengan meminjam
Pemahaman konsep
Dalam memahami konsep operasi hitung dengan menggunakan bayang-bayang (mental aritmetika) tidak ada kesulitan yang dialami siswa karena konsepnya sama dengan penerapan abacus dengan kecekan hanya saja menggunakan bayang-bayang (di luar kepala)
Tidak ada hambatan dalam memahami konsep menyelesaikan soal operasi hitung dengan bayang-bayang (mental aritmetika). Bahkan siswa sudah memahami dan membuat kesimpulan sendiri ketika masih menggunakan kecekan, sebab kadang-kadang siswa tidak menggunakan kecekan tetapi langsung dengan mental aritmetika

Tidak ada hambatan dalam memahami konsep menyelesaikan soal operasi hitung dengan bayang-bayang (mental aritmetika).
Siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami operasi hitung matematika dengan menggunakan bayang-bayang (mental aritmetika). Sama halnya dengan penjumlahan menyimpan, siswa juga mampu membuat kesimpulan dan mengerjakan soal pengurangan meminjam dengan mental aritmetika
Ketrampilan melakukan perhitungan
Siswa trampil menggunakan mental aritmetika untuk menyelesaikan soal berbentuk penjumlahan sederhana

Ketrampilan menggunakan mental aritmetika untuk menyelesaikan soal kalkulasi sederhana berkaitan dengan penjumlahan menyimpan dimiliki siswa dengan baik

Siswa mampu dan trampil menggunakan ketrampilan mental aritmetika untuk menyelesaikan soal pengurangan sederhana

Siswa memiliki ketrampilan menggunakan mental aritmetika untuk melakukan operasi hitung berkaitan dengan pengurangan meminjam
Ketrampilan memecahkan masalah
Siswa mampu memecahkan soal yang berkaitan dengan kalkulasi sederhana pada alat tes yang berkaitan dengan penjumlahan sederhana berbentuk soal cerita menggunakan mental aritmetika

Siswa juga mampu memecahkan masalah dalam menghadapi soal-soal yang berkaitan dengan penjumlahan menyimpan menggunakan mental aritmetika
Siswa mampu memecahkan masalah yang diberikan padanya dalam bentuk soal cerita berkaitan dengan pengurangan sederhana dan menyelesaikannya menggunakan mental aritmetika
Siswa trampil memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengurangan meminjam berbentuk soal cerita menggunakan mental aritmetika
Ketrampilan membuat kesimpulan
Kesimpulan dapat dibuat oleh siswa setelah menyelesaikan sebuah soal cerita dengan mental aritmetika
Setelah menyelesaikan soal berkaitan dengan penjumlahan menyimpan, siswa mampu membuat kesimpulan
Siswa dapat membuat kesimpulan setelah menyelesaikan sebuah soal yang diberikan gurunya dengan menggunakan mental aritmetika

Mampu membuat kesimpulan dari soal yang diselesaikannya
Kecepatan dan ketepatan
Lebih cepat jika dibandingkan dengan menggunakan kecekan. Tetapi untuk soal yang sangat banyak kadang-kadang kecekan dengan konsep abacus lebih efektif bagi siswa. Untuk ketepatan masih lebih baik kecekan

Dalam menyelesaikan soal berbentuk penjumlahan menyimpan, siswa lebih cepat mengerjakannya menggunakan mental aritmetika tetapi dari segi ketepatan, lebih banyak menggunakan kecekan.


Lebih cepat dibanding dengan mental aritmetika. Tetapi ketika ditanya cara yang lebih disukai, siswa lebih senang menggunakan kecekan dengan konsep abacus dengan alasan hasilnya lebih meyakinkan dirinya
Lebih cepat dibanding dengan kecekan tetapi kadang-kadang hasilnya lebih akurat bagi siswa jika melakukannya dengan konsep abacus pada kecekan
BAB III
LAPORAN HASIL BELAJAR SISWA

Dari proses pembelajaran matematika siswa kelas satu ( 1 ) dengan menerapkan konsep abacus pada alat hitung kecekan diperoleh hasil sebagai berikut 1 :


TINDAKAN YANG DICOBAKAN

KEGIATAN
HASIL BELAJAR
Pemahaman
Konsep
Ketrampilan melakukan perhitungan
Ketrampilan memecahkan masalah
Ketrampilan membuat kesimpulan
Kecepatan dan ketepatan
Penerapan konsep abacus dengan kecekan
Penjumlahan sederhana
Tidak ada kesulitan bagi siswa dalam memahami konsep penjumlahan sederhana yang dilakukan dengan menerapkan konsep abacus menggunakan alat bantu hitung kecekan
Ketrampilan melakukan perhitungan dengan menggunakan alat hitung kecekan yang menerapkan konsep abacus dilakukan dengan baik oleh siswa dan tidak ada hambatan dalam melakukannya. Posisi jari tangan dan nilai tempat dilakukan dengan baik dan sangat mudah bagi siswa

Ketrampilan memecahkan masalah yang berkaitan dengan penjumlahan sederhana dilakukan siswa tanpa hambatan yang berarti terlebih siswa menggunakan penerapan konsep abacus pada kecekan

Siswa dapat membuat kesimpulan setelah menyelesaikan soal penjumlahan sederhana dengan menggunakan kecekan yang menerapkan konsep abacus
Kecepatan siswa dalam menyelesaikan soal penjumlahan sederhana rata-rata membutuhkan waktu 1 menit bahkan kurang. Dari rata-rata 10 soal yang diselesaikan siswa umumnya dapat menjawab dengan benar tanpa salah


Penjumlahan dengan menyimpan
Siswa hampir tidak mengalami hambatan dalam memahami konsep abacus dengan kecekan pada soal penjumlahan dengan menyimpan, meski di awal pembelajaran siswa mengalami sedikit hambatan dalam memahami konsep tetapi dengan latihan semua dapat diatasi
Tidak ada hambatan ketika siswa harus melakukan perhitungan pada penjumlahan dengan menyimpan. Posisi tangan dan perpindahan manik-manik ketika harus menyimpan lalu menggeser ke kanan beberapa manik-manik jika melakukan penjumlahan dapat dilakukan siswa dengan baik


Mampu menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan penjumlahan menyimpan
Mampu membuat kesimpulan
Kecepatan siswa menyelesaikan satu soal penjumlahan menyimpan rata-rata 1 menit bahkan kadang-kadang kurang dari satu menit


Pengurangan sederhana
Sama halnya dengan penjumlahan sederhana, konsep penerapan abacus pada kecekan untuk operasi pengurangan sederhana dapat dengan mudah dipahami oleh siswa
Ketrampilan siswa dalam melakukan perhitungan pada pengurangan sederhana tidak mengalami hambatan dan dapat dilakukan dengan baik. Memindahkan manik-manik dan posisi nilai tempat pada pengurangan sederhana dapat dilakukan siswa dengan mahir
Siswa mampu menyelesaikan masalah yang terdapat dalam soal cerita yang berkaitan dengan pengurangan sederhana
Siswa juga mampu membuat kesimpulan berkaitan dengan soal pengurangan sederhana
Sama halnya dengan penjumlahan sederhana, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal pengurangan sederhana rata-rata 1 menit bahkan kadang-kadang kurang dari satu menit. Ketepatan menyelesaikan soal pengurangan sederhana juga sama dengan penjumlahan sederhana. Rata-rata mereka mampu menyelesaikan semua soal yang diberikan dengan benar dan tepat


Pengurangan dengan meminjam

Untuk memahami soal pengurangan dengan meminjam dapat dilakukan siswa dengan baik. Kendala pemahaman konsep baru dijumpai ketika menyelesaikan soal pengurangan dengan dua kali meminjam

Ketrampilan melakukan perhitungan pengurangan meminjam satu kali dapat dilakukan dengan baik. Tetapi terdapat kendala ketika melakukan perhitungan pengurangan dengan dua kali meminjam


Siswa mampu menyelesaikan dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan soal-soal cerita pada pengurangan dengan meminjam

Siswa mampu membuat kesimpulan akhir dari soal yang diselesaikan berkaitan dengan pengurangan sistem meminjam

Untuk kecepatan menyelesaikan soal pengurangan dengan meminjam, rata-rata siswa mampu menyelesaikan satu soal dalam 1 menit. Terkadang siswa dapat pula menyelesaikannya kurang dari 1 menit. Tetapi untuk soal pengurangan dengan 2 kali meminjam dapat diselesaikan lebih dari 1 menit. Sedangkan ketepatan menyelesaikan soal rata-rata siswa dapat menyelesaikan dengan benar meski dengan waktu yang lebih lama terutama untuk soal pengurangan dengan dua kali meminjam

Mengembangkan mental aritmetika
Penjumlahan dengan menyimpan
Tidak ada hambatan dalam menyelesaikan penjumlahan menyimpan dengan mental aritmetika karena siswa terbiasa dengan konsep abacus pada kecekan
Ketrampilan melakukan perhitungan penjumlahan dengan menyimpan menggunakan mental aritmetika dilakukan siswa dengan baik
Mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan penjumlahan menyimpan menggunakan mental aritmetika
Siswa dapat membuat kesimpulan setelah menyelesaikan soal penjumlahan menyimpan
Siswa lebih cepat menyelesaikan soal jika dibandingkan dengan penerapan konsep abacus pada kecekan. Tetapi siswa lebih percaya ketepatan jawaban soal jika menggunakan kecekan dengan konsep abacus

Pengurangan dengan meminjam
Sama halnya dengan penjumlahan, pengurangan dengan meminjam menggunakan mental aritmetika juga dapat dipahami siswa dengan baik
Siswa memiliki ketrampilan melakukan perhitungan pengurangan meminjam dengan mental aritmetika
Siswa mampu memecahkan masalah dalam soal cerita yang berkaitan dengan pengurangan meminjam menggunakan mental aritmetika
Siswa juga mampu membuat kesimpulan setelah menyelesaikan soal
Seperti pada
penjumlahan, siswa lebih cepat melakukan perhitungan pengurangan meminjam dengan mental aritmetika. Tetapi mereka lebih suka menggunakan kecekan dengan konsep abacus dengan alasan jawabannya yakin benar



BAB IV
PENUTUP


KESIMPULAN

Dengan menggunakan alat hitung kecekan yang menerapkan konsep abacus pada proses pembelajaran matematika siswa tunanetra kelas satu ( 1 ) di SD Percontohan Kebayoran Lama Selatan 11 Pagi Jakarta, maka dapat disimpulkan beberapa hal antara lain :

Penggunaan alat hitung kecekan yang menerapkan konsep abacus terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan belajar aritmetika siswa tunanetra di kelas satu. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai prestasi belajar matematika siswa serta kecepatan dan ketepatan siswa dalam memecahkan soal-soal yang berkaitan dengan kalkulasi dalam aritmetika.

Proses pembelajaran matematika yang menggunakan alat hitung kecekan dengan menerapkan konsep abacus juga terbukti dapat mengembangkan mental aritmetika siswa tunanetra kelas 1 SD Percontohan Kebayoran Lama Selatan 11 Pagi Jakarta sejak dini.

Dari pengamatan, siswa merasa lebih nyaman menggunakan alat tersebut dan tampak lebih ceria dalam proses pembelajaran karena mampu mengikuti proses pembelajaran matematika bersama-sama teman lainnya di kelas dan tidak merasa tertinggal. Tampak pula siswa menunjukkan rasa percaya diri yang besar dengan keberanian menjawab soal yang diberikan guru di kelas

Diperoleh keterangan dari orang tua kalau mereka sangat terbantu dan lebih mudah mengajarkan kepada anak jika dibandingkan menggunakan abacus

Alat hitung kecekan yang menerapkan pengerjaan konsep abacus juga dapat digunakan oleh siswa lain yang tidak memiliki hambatan penglihatan dan menjadi dasar dalam mengajarkan konsep abacus sebelum menggunakan alat hitung abacus yang sesungguhnya. Selain itu alat hitung kecekan yang menerapkan konsep abacus juga dapat digunakan untuk melakukan perkalian dan penjumlahan sederhana



SARAN

Dari hasil proses pembelajaran matematika dengan menerapkan konsep abacus, penulis memberikan beberapa saran antara lain :
1. Bagi guru-guru yang mengajar siswa berkebutuhan khusus dengan gangguan penglihatan (tunanetra) di kelas awal ( 1 – 3 ), penulis menyarankan untuk dapat menggunakan penerapan konsep abacus dengan alat hitung kecekan sebab telah terbukti efektif meningkatkan prestasi belajar matematika siswa dalam kegiatan pembelajaran
2. Setelah anak mampu melakukan perhitungan menggunakan alat hitung kecekan dengan menerapkan konsep abacus, disarankan untuk melatih siswa menggunakan abacus sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran matematika sebab meskipun kecekan dapat digunakan untuk perkalian dan pembagian tetapi alat ini tidak efektif jika telah mencapai empat digit (ratusan dan ribuan)







DAFTAR PUSTAKA


Ariesandi Setyono (2005). Mathemagics ; Cara Jenius Belajar Matematika. Jakarta :
PT. Gramedia Pustaka Utama

Asmadi Alsa. (2003). Pendekatan Kuantitatif Kualitatif Serta Kombinasinya Dalam
Penelitian Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Depdiknas. (2002). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning
(CTL)). Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah : Direktorat
Pendidikan Lanjutan Pertama.

Fernandez, Gunawathy, et.all (1999). See with the Blind ; Trends in Education of
the Visually Impaired. Bangalore : CBM-Asia & Books for Change

Gall, M.D. et.al. (1996). Educational Research : An Introduction. 6th Ed. New York :
Longmann Publishers USA.

Hainstock, Elizabeth.G. (2002). Montessori Untuk Prasekolah : Panduan Sistematis,
Praktis & Efektif Mudah Dipelajari Untuk Mendidik Anak. Jakarta : Pustaka
Delapratasa.

Hainstock, Elizabeth.G. (1995). Metode Pengajaran Montessori Untuk Anak Sekolah
Dasar : Panduan Praktis & Efektif Untuk Meningkatkan Ketrampilan Matematika dan Bahasa. Jakarta : Pustaka Delapratasa.

Kirk, Samuel., and Gallagher, James. (1989). Educating Exceptional Children : Sixth
Edition. Boston : Houghton Mifflin Company.

Mason, Heather., and Mc, Stephen. (1997). Visual Impairment : Access to Education
for Children and Young People. London : David Fulton Publishers.

Prasetya Irawan. (2003). Logika dan Prosedur Penelitian : Pengantar Teori dan
Panduan Praktis Penelitian Sosial bagi Mahasiswa dan Peneliti Pemula.
Jakarta : STIA LAN Press

Schmidt, Laurel. (2002). Jalan Pintas Menjadi 7 Kali Lebih Cerdas : 50 Aktivitas,
Permainan, dan Prakarya Untuk Mengasah 7 Kecerdasan Mendasar Pada
Anak Anda. Bandung : Kaifa

Sobol, Tom and Sobol, Harriet. (2003). Rancang Bangun Anak Cerdas.
Depok : Inisiasi Press.

Comments

Salam kenal teman,
silahkan mampir di lapak saya ;)

Popular posts from this blog

PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN TERPADU (INTEGRASI)

TELLING STORY